You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Nagari Batu Banyak
Nagari Batu Banyak

Kec. Lembang Jaya, Kab. Solok, Provinsi Sumatera Barat

Selamat Datang di Portal Resmi Nagari Batu Banyak - Mewujudkan Desa yang Mandiri, Sejahtera, Transparan, dan Berdaya Saing Batu Banyak Elok Nan Asri, Basamo Mambangun Nagari Sejarah Nagari "Batu Banyak Elok Nan Asri, Basamo Mambangun Nagari" Menampilkan keindahan alam Nagari Batu Banyak yang hijau dan asri, serta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergotong royong membina dan memaju

Sejarah Nagari

MELITA HANORA 29 Juli 2026 Dibaca 23 Kali
  1. SEJARAH DAN ASAL USUL NAMA NAGARI BATU BANYAK 

Masyarakat Nagari Batu Banyak merupakan salah satu Nagari yang berada dalam daerah Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok, semua Nagari tentu mempunyai asal usul, sejarah penyebaran dan perkembangan kebudayaan yang dikenal sebagai adat sendiri. Menurut keterangan dari orang tua-tua Nagari, sesepuh Adat baik yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup antara lain :

  • Menurut H. Bakri Endah Kayo & M. Jusar Dt. Tan Pahlawan

Kira-kira abad XIII berhubung karena Daerah Pariangan Padang Panjang sudah semakin padat penduduknya, maka yang berkuasa di Pariangan Padang Panjang ( Dt. Bandaro Kayo & Maharajo Basa )  menghadap kepada Dt. Katamanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang guna mohon izin dan restu untuk penyebaran penduduk, setelah memperoleh izin dari kedua pemimpin kerajaan tadi, maka mulailah penduduk berangkat melalui pintu gerbang gapura kearah Timur Tanah Datar, kearah Barat Agam dan kearah Utara Lima Puluh Koto yang juga merupakan asal usul nama Luhak Nan Tigo. Lama kelamaan jumlah penduduk yang pergi mencari daerah baru semakin banyak, dan yang tinggal semakin kurang, maka Dt. Bandaro kayo berfikir bahwa kalau begini terus menerus mungkin penduduk pariangan padang panjang semakin habis, untuk itu dia tidak lagi akan mengizinkan warga untuk pergi mencari daerah baru.

  • Abad XV

Setelah serombongan penduduk yang dipimpin oleh ketua adat yang bernama Tuanku Labuah Basa yang kemudian bergelar Sultan Manangkerang menghadap kepada Dt. Bandaro Kayo menyampaikan keinginan dan Mohon izin restu dan petunjuk guna mencari daerah baru. Setelah Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Maharajo Basa membicarakan dengan pemuka adat dan pimpinan di Pariangan Padang Panjang. Diizinkanlah pemberangkatan rombongan itu dan diberikan petunjuk menuju ketimur ( Tanah Datar ), dengan catatan rombongan ini merupakan rombongan yang terakhir memperoleh izin. rombongan Sultan Manangkerang tersebut berangkat menuju arah ketimur, ditengah perjalanan rombongannya bertambah juga karena untuk seterusnya Dt. Bandaro Kayo  tidak lagi memberi izin dan pintu gerbang di Pariangan sudah dikunci. Dengan arti kata rombongan itu adalah rombongan terakhir dan pintu telah dikunci/ditutup. Lama-kelamaan anak kemenakan bertambah dan berkembang juga, niniak mamak, cadiak pandai, di luhak tanah data berfikir serta merenungkan nasib anak kemenakan selanjutnya untuk masa – masa seterusnya.

Maka timbullah pendapat dari 45 orang Niniak Mamak, cadiak pandai untuk memperkembang Daerah tempat pemukiman baru, dengan atas pemufakatan bersama bulatlah tekat mencari Daerah baru.

Dari Luhak Tanah Datar Batu Sangka menuju arah ke Barat sampailah niniak Moyang dengan rombongan  di muara  batang ombilin seterusnya menuju ke arah Selatan hilir tepi Danau Singkarak tibalah Daerah Kubuang 13 (Tigo Baleh).

Daerah kubung 13 meliputi Lubuak Sikarah, Solok, Salayo, Cupak, Gantuang Ciri, Talang, Talago Dadok, Guguak jo Koto Nan Anam, Kinari jo Muaro Paneh,  Tanjuang Nan Ampek jo Tanjuang Baliak, alam surambi Sungai Pagu, Koto Panyudahi Panyangkalan, Sirukam dan Supayang, terus sampai ke bukit baih dan Taruang-taruang.

Sesuai dengan pepatah perjalanan manusia secara adat gadang aie dari ateh gadang pusako dari baruah.

Dari perkembangan tersebut dapat kata sepakat Ibu Solok Bapak Salayo, Kakak Guguak ,Adiak Koto Nan Anam, yang disebut koto nan anam adalah sebagai berikut :

  1. Tanah Sirah sungainyo janiah
  2. Batu Banyak kotonyolaweh
  3. Limau Lunggo  Bajanjang Batu

Jadi orang koto nan anam berasal dari Guguk terus ke Guguk Bayue bagian timur menuju  ke suatu tempat yang kemudian diberi nama Panta. Dikarenakan dari tempat ini ninik nan batigo diantakan yaitu :

  1. Tanah sirah
  2. Guguak malintang
  3. Limau lunggo

Setibanya di Panta niniak mamak atau moyang kita melihatlah arah ketimur, tambah daerah pemukiman  tanah malintang dari utara ke selatan dengan kemiringan + 30 derajat diberi nama guguk malintang bersama-sama niniak mamak dan anak kemenakan membuat tempat pemukiman :

  • Pertama banamotaratak
  • Taratak menjadi koto
  • Koto menjadi dusun

Beberapa kampuang menjadi Nagari. Nagari telah balabuh ( jalan ) nan batapian ( tampek mandi ) nan mempunyai susunan niniak mamak nan ba kantui tempat menjalankan roda pemerintahan. Nan bamusajik tempat beribadah mendirikan sembahyang pengajian agama islam,nan ba balai-balai adat tampek menyelesaikan sengketo sako jo pusako.

Dengan telah tersusunnya Nagari maka timbullah Adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah,

dan setelah itu ditentukan batas-batas nagari secara adat munurut wilayah ( tanah ulayat hukum adat )

Secara wilayah hukum adat

  • Sebelah timur dengan batu baraguang, batu kasek, batu sirisau
  • Sebelah barat dengan batu sibeloh, batu parahu tatungkuk, batu bangalau
  • Sebelah utara dengan batu batalui jo batu batingkok
  • Sebelah selatan batu ba amo, batu bagiriak.

Maka dengan demikian karena banyak nama batu yang telah menjadi wilayah hukum adat maka nama guguak malintang dijadikan nama Nagari Batu Banyak.

Dengan adanyo Nagari maka dilengkapi atau dihuni oleh beberapa keturunan atau beberapa suku. Suku adalah golongan orang-orang yang seketurunan atau lebih, lebih tepatnya orang sekaum atau seketurunan. Dengan toritorial kepemimpinan tertinggi dalam sebuah suku adalah urang.

ampek jinih, ditambah dengan orang tua suku sebagai penasehat untuk memecahkan masalah yang timbul dalam suku disesuaikan dalam kerangka suku karena itu setiap suku mempunyai wadah interen yang dipimpin lansung oleh penghulu suku.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image