Pagi itu, Kamis, 9 Oktober 2025, kawasan tepian danau di Nagari Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, berubah menjadi lautan manusia dan warna. Udara Cerah danau berpadu sempurna dengan kehangatan riuh gembira ribuan pasang mata. Hari itu, helat budaya paling bergengsi di Kabupaten Solok—Festival 5 Danau 2025—resmi digelar dengan sangat megah.
Tak tanggung-tanggung, perhelatan ini diikuti oleh 74 nagari se-Kabupaten Solok yang tampil memamerkan keunikan tradisi dan seni kebudayaan daerah masing-masing. Di antara deretan spanduk, kibaran kain hiasan, dan dentuman musik tradisional, sebuah spanduk putih membentang gagah dengan tulisan yang langsung menyedot perhatian para penonton maupun dewan juri: Arakan Khas Nagari "Larak Anta Marapulai" dari Nagari Batu Banyak.
"Larak Anta Marapulai"
Pesona Tradisi Batu Banyak
Prosesi Larak Anta Marapulai—sebuah tradisi pelepasan atau pengantaran pengantin laki-laki (marapulai) menurut adat Minangkabau—disajikan secara apik dan dramatis oleh masyarakat Nagari Batu Banyak.
-
Barisan Ninik Mamak & Bundo Kanduang: Terdepan dalam rombongan, para pemangku adat berjalan dengan pakaian kebesarannya yang berwibawa, didampingi para Bundo Kanduang yang menjunjung jamba berhiaskan kain songket nan indah.
-
Prosesi Marapulai: Sosok marapulai tampak gagah berpakaian adat, diapit oleh kerabat dan sahabat yang mengiringinya dengan lantunan musik tradisional.
-
Penampilan Seni: Mengiringi langkah kaki rombongan, seniman muda dari Batu Banyak menampilkan alunan musik tradisional yang membuat penonton tak henti-hentinya memberikan tepuk tangan meriah.
Semarak Kebersamaan di Muaro Pingai
Festival 5 Danau 2025 bukan sekadar ajang pertunjukan budaya, melainkan simpul pengikat silaturahmi antar-nagari di Kabupaten Solok. Kehadiran kontingen Nagari Batu Banyak dengan tema "Larak Anta Marapulai" berhasil menyedot perhatian dan memberikan warna tersendiri pada perhelatan di Muaro Pingai hari itu.
Saat matahari mulai terbenam di balik perbukitan yang mengelilingi Danau Singkarak, kehangatan dan rasa bangga masih membekas di hati setiap pengunjung. Festival hari itu menjadi bukti nyata bahwa di tengah cantiknya alam Solok, tradisi dan kearifan lokal akan terus lestari dan dijaga oleh anak nagarinya.